Kue Karawo Gorontalo: Manisnya Tradisi dalam Setiap Gigitan

Kue karawo rasa coklat hasil olahan para ibu rumah tangga di Desa Hutadaa, Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo. Foto: Burdu/banthayoid
Kue karawo rasa coklat hasil olahan para ibu rumah tangga di Desa Hutadaa, Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo. Foto: Burdu/banthayoid

Motif karawo tidak hanya digunakan di kain. Masyarakat Gorontalo juga menggunakan motif itu di kue kering. Sehingga menjadikan kue itu khas Gorontalo.

Pembuat kue kering tambahan motif karawo bisa ditemui hampir di semua wilayah Gorontalo. Salah satunya di Desa Hutadaa, Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo. Saya menemui pembuat kue karawo, Mulyani Amali.

Baca Juga:  6 Pesona Pulau di Gorontalo Utara yang Wajib Dikunjungi

Mulyani menjelaskan, proses pembuatan kue karawo sama dengan kue kering lainnya. Perbedaannya hanya terletak ditambahan motif. Kue karawo juga memiliki beragam rasa. Ada rasa moka, jeruk hingga cokelat.

Proses tambahan motif karawo membutuhkan kecermatan. Menurut Mulyani, kesulitan tertinggi saat menggambar daun dan bunga dengan ciri khas karawo.

Baca Juga:  Lalampa, Kue Warisan Sulawesi Utara yang Hits di Gorontalo

Satu biji kue karawo membutuhkan waktu sekitar 30 detik sampai satu menit. Bagi pemula bisa lima menit. Proses itu menjadikan kue karawo bernilai tinggi. Satu toples besar bisa dihargai Rp300 ribu.

Baca Juga:  Rekomendasi 4 Wisata Pantai di Gorut

Meski mahal, peminat kue karawo cukup tinggi. Mulyani sempat menerima pesanan kue karawo dari Manado, Jakarta dan Bali. Permintaan besar-besaran terjadi saat bulan Ramadan.

“Di bulan Ramadan pendapatan bisa sampai jutaan rupiah,” pungkasnya.

——-