Gorontalo – Puluhan petani di Desa Dulamayo Selatan, Kecamatan Telaga dan petani di Desa Toyidito, Kecamatan Pulubala dilatih membuat pupuk organik, yakni pupuk yang dibuat dari pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan dan manusia. Pupuk organik itu ampuh memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
Pelatihan yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo melalui Program Upland itu digelar secara bersamaan di dua lokasi berbeda.
Pelatihan dilakukan demi meningkatkan kapasitas dan pengetahuan petani Upland. Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Gorontalo hadir langsung memberikan pelatihan tersebut.
Mario menjelaskan, Program Upland merupakan program yang mendapat hibah luar negeri. Tujuannya adalah, agar petani pisang gapi dapat meningkatkan ekonomi mereka. Dalam program ini juga petani dilatih tata cara budidaya pisang gapi, mulai dari penanaman, pasca panen hingga pemasaran.
“Upland Project menggunakan dana hibah luar negeri, yakni dari International Fund for Argricultural Development (IFAD) dan Islamic Development Bank (IsDB),” sambung Mario.
Project Manager District Project Implementation Unit (DPIU) Upland, Sofyan Husin menuturkan, program digelar bertujuan untuk membudidayakan, memasyarakatkan pembuatan pupuk organik secara mandiri. Masyarakat petani diberikan pengetahuan untuk belajar cara melakukan fermentasi pupuk. Hal itu dilakukan karena fermentasi dapat menghasilkan pupuk organik yang lebih berkualitas dibandingkan dengan pupuk kompos pada umumnya.
“Fermentasi ini akan menghasilkan pupuk organik yang lebih baik kualitasnya dibandingkan kompos biasa,” ungkap Sofyan.
Metode itu lebih mudah dilakukan petani di rumah, karena dapat dilakukan pada skala kecil seperti rumah tangga. Petani dapat menggunakan bahan baku yang di sekitar rumah yang mengandung unsur karbon dan nitrogen seperti serbuk gergaji, sekam padi, dan kotoran hewan.
“Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan pisang gapi yang dihasilkan akan berbuah maksimal,” pungkasnya.
——–









Leave a Reply