Mengenal Wunu-Wunungo, Harmoni Al-Qur’an dan Syair Tradisi di Tanah Gorontalo

Gambar Ilustrasi warga di sebuah pondok di perkampungan di Gorontalo.
Gambar Ilustrasi warga di sebuah pondok di perkampungan di Gorontalo.

Banthayo.id – Di sejumlah kampung di Gorontalo, malam hari sering diwarnai suara lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengalun perlahan. Namun, di sela-sela bacaan tersebut, terdengar pula syair-syair bernada khas yang dilantunkan secara bergantian oleh para peserta. Irama itu dikenal masyarakat setempat sebagai Wunu-Wunungo, sebuah tradisi lisan yang memadukan pembacaan Al-Qur’an dengan syair keagamaan dalam bahasa daerah.

Bagi masyarakat Gorontalo, Wunu-Wunungo bukan sekadar kegiatan membaca Al-Qur’an bersama. Tradisi ini merupakan perpaduan antara nilai-nilai agama dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad.

Jejak Sejarah dari Masa Awal Islam di Gorontalo

Sejarah pasti kemunculan Wunu-Wunungo tidak tercatat secara tertulis. Namun sejumlah kajian budaya memperkirakan tradisi ini mulai berkembang pada sekitar abad ke-17 hingga abad ke-18, ketika Islam semakin kuat menyebar di wilayah Gorontalo.

Pada masa itu, para ulama dan pemimpin adat menghadapi tantangan dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang masih sangat lekat dengan tradisi lisan. Untuk menjembatani hal tersebut, pendekatan budaya menjadi pilihan yang efektif. Nilai-nilai keagamaan kemudian disampaikan melalui syair dan nyanyian yang mudah diingat oleh masyarakat.

Dari sinilah muncul kebiasaan membaca Al-Qur’an secara bergiliran yang diselingi dengan lantunan syair nasihat. Tradisi tersebut kemudian dikenal dengan sebutan Ngadi Wunu-Wunungo.

Baca Juga:  Jejak Belanda di Negeri Batudaa, Potret Sejarah Gorontalo

Melalui metode ini, pesan-pesan keagamaan dapat diterima secara lebih dekat oleh masyarakat. Dakwah tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga melalui lantunan syair yang sarat makna.

Menariknya, dalam perjalanan sejarahnya, Wunungo tidak selalu berkaitan langsung dengan kegiatan keagamaan. Dalam tradisi lama masyarakat Gorontalo, Wunungo dikenal sebagai bentuk nyanyian tradisional yang sering digunakan sebagai lagu pengantar tidur atau nyanyian bagi anak-anak.

Syair-syairnya sederhana dan bernuansa kehidupan sehari-hari. Namun seiring berkembangnya pengaruh Islam di Gorontalo, isi syair tersebut mulai mengalami perubahan.

Para tokoh agama kemudian memasukkan pesan-pesan moral, nasihat kehidupan, dan pujian kepada Allah serta Nabi Muhammad ke dalam syair Wunungo. Perlahan-lahan, fungsi hiburan dalam nyanyian tersebut berkembang menjadi sarana dakwah dan pendidikan agama.

Perubahan ini menunjukkan bagaimana masyarakat Gorontalo mampu mengadaptasi tradisi lama tanpa menghilangkan identitas budaya yang telah mereka miliki.

Dalam praktiknya, Wunu-Wunungo biasanya dilakukan secara berkelompok. Para peserta duduk melingkar, baik di masjid, rumah warga, maupun di tempat pengajian.

Baca Juga:  Melihat Malam Qunut, Tradisi Turun-Temurun Masyarakat Gorontalo

Pembacaan Al-Qur’an dilakukan secara bergiliran oleh para peserta. Di sela-sela bacaan tersebut, seorang atau beberapa orang akan melantunkan syair Wunungo dengan irama tertentu. Syair tersebut kemudian diikuti atau disahut oleh peserta lainnya.

Isi syair umumnya berisi pujian kepada Allah, selawat kepada Nabi Muhammad, nasihat moral, serta ajakan untuk memperdalam ilmu agama. Bahasa yang digunakan pun beragam, mulai dari bahasa Gorontalo, bahasa Arab, hingga kadang diselingi bahasa Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan, lantunan Wunu-Wunungo juga diiringi dengan alat musik tradisional seperti rebana. Irama yang dihasilkan menciptakan suasana religius sekaligus hangat dalam kebersamaan masyarakat.

Menjaga Identitas Budaya di Tengah Perubahan Zaman

Bagi masyarakat Gorontalo, Wunu-Wunungo bukan sekadar tradisi keagamaan. Ia juga menjadi simbol identitas budaya yang menghubungkan adat, agama, dan kehidupan sosial masyarakat.

Melalui tradisi ini, generasi muda diperkenalkan pada nilai-nilai moral, ajaran agama, sekaligus bahasa dan budaya daerahnya. Lantunan syair yang diwariskan secara turun-temurun menjadi sarana pendidikan yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga kultural.

Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, keberadaan Wunu-Wunungo menjadi pengingat bahwa tradisi lokal masih memiliki peran penting dalam kehidupan sosial.

Baca Juga:  Sejarah Benteng Otanaha di Gorontalo

Kesadaran akan nilai budaya tersebut semakin menguat ketika tradisi Wunungo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada tahun 2022. Pengakuan ini menegaskan bahwa Wunu-Wunungo merupakan bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang patut dijaga dan dilestarikan.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulutenggo, Sri Sugiharta mengatakan, potensi kebudayaan harus terus dilestarikan pada era milenial seperti saat ini, agar tidak punah. “Harus dijaga,” katanya.

Lantunan yang Terus Bergema

Hari ini, Wunu-Wunungo masih dapat dijumpai dalam berbagai kegiatan keagamaan masyarakat Gorontalo, terutama dalam pengajian dan tadarus pada bulan Ramadan. Di beberapa desa, tradisi ini bahkan menjadi bagian dari kegiatan rutin yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.

Lantunan syair yang mengalun pelan di sela bacaan Al-Qur’an tidak hanya menciptakan suasana religius, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga.

Dari generasi ke generasi, Wunu-Wunungo terus diwariskan sebagai bentuk kearifan lokal yang mempertemukan dakwah dan budaya. Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap bergema—menjadi suara yang mengingatkan masyarakat akan akar budaya sekaligus nilai spiritual yang mereka junjung tinggi.

Penulis: Al-Mahdi Sharique Zhafran

 


**Cek berita dan artikel terbaru di Banthayo.id. Klik : Ikuti WhatsApp Channel