Di Antara Dentuman dan Doa: Potret Keteguhan Warga Iran di Hari Raya

Jemaah Syiah Iran mengikuti salat Idulfitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, di Masjid Agung Mosalla, Teheran (21/3). Foto: STR / AFP
Jemaah Syiah Iran mengikuti salat Idulfitri yang menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, di Masjid Agung Mosalla, Teheran (21/3). Foto: STR / AFP

Di bawah langit yang belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang sirene dan dentuman jauh, ribuan warga Iran tetap melangkah menuju lapangan-lapangan terbuka dan masjid, menunaikan salat Idul Fitri dengan khidmat.

Pagi itu, Sabtu (21/3), menjadi penanda berakhirnya Ramadan—sebuah jeda spiritual di tengah ketegangan konflik yang masih berdenyut antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Di Teheran, pusat perayaan mengerucut di Masjid Agung Imam Khomeini. Lantunan takbir menggema, bersahut-sahutan dengan langkah-langkah jemaah yang terus berdatangan. Namun, di balik suasana religius itu, ada kegamangan yang tak sepenuhnya sirna—ancaman serangan masih menggantung di udara.

Baca Juga:  3 Fasilitas AWS di Timur Tengah Rusak Akibat Serangan Drone

Sosok yang dinantikan, Mojtaba Khamenei, tak tampak di antara lautan manusia. Sejak ditunjuk menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, ia belum kembali muncul di ruang publik. Ketidakhadirannya pagi itu digantikan oleh Gholam Hossein Mohseni Ejei, yang berdiri di barisan jemaah, ikut larut dalam ibadah.

Jumlah jemaah yang membludak memaksa sebagian orang menggelar sajadah hingga ke ruas-ruas jalan di sekitar masjid. Kamera televisi menangkap hamparan manusia yang nyaris tak terputus, meski kawasan tersebut disebut-sebut sebagai salah satu titik rawan. Dalam beberapa hari terakhir, kota ini dilaporkan kerap diguncang serangan udara, menjadikannya ruang hidup yang tak lagi sepenuhnya aman.

Baca Juga:  Ledakan Misterius Gegerkan Teheran

Laporan dari Fars News Agency menyebutkan, dentuman kembali terdengar pada malam hari di sejumlah distrik Teheran dan wilayah sekitarnya, bahkan menjalar hingga Isfahan. Namun pagi itu, setidaknya untuk beberapa saat, suara takbir mengalahkan bunyi ledakan.

Baca Juga:  3 Fasilitas AWS di Timur Tengah Rusak Akibat Serangan Drone

Di kota-kota lain seperti Arak, Zahedan, hingga Abadan, suasana serupa terulang. Di tengah ketidakpastian, warga tetap memilih berkumpul, bersujud, dan merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa—sebuah keteguhan yang seolah menegaskan bahwa iman masih punya ruang, bahkan di antara reruntuhan dan rasa cemas.

Disadur dari berbagai sumber


**Cek berita dan artikel terbaru di Banthayo.id. Klik : Ikuti WhatsApp Channel