GORONTALO — Panas terik menyengat kulit di tepian Danau Limboto, Gorontalo. Jejak-jejak air yang menyusut tak hanya meninggalkan hamparan tanah retak berkilo-kilor meter, tetapi juga melukiskan ketidakpastian hidup bagi masyarakat yang menggantungkan napas pada danau legendaris ini.
Sejak kemarau panjang melanda, air danau surut drastis hingga ratusan meter dari garis pantai semula. Di mana dulu air beriak menampung perahu-perahu kayu, kini hanya menyisakan tanah gersang dan kubangan-kubangan dangkal.
Sunyinya danau berbanding lurus dengan sepinya mata pencaharian nelayan tradisional. Banyak perahu kini dibiarkan tertambat, membisu di atas tanah retak. Sebagian nelayan memilih berhenti sementara, menyusuri daratan untuk mencari pekerjaan sampingan sebagai kuli demi menyambung hidup keluarga.
“Sudah beberapa minggu saya tidak turun menangkap ikan. Beberapa hari ini harus cari pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan harian,” tutur Djafar Gani, salah seorang nelayan lokal, melukiskan kepasrahannya.
https://www.tiktok.com/@banthayo.id/video/7671854692741156104?lang=en
Bagi mereka yang bertahan, menangkap ikan kini menjadi perjuangan fisik yang melelahkan. Nelayan harus berjalan beberapa kilometer menembus lumpur kering demi mencapai titik air tersisa. Itu pun hasilnya tak seberapa.
“Biasanya ikan yang didapat hanya satu kilogram. Itu hanya untuk makan sehari-hari, bukan untuk dijual,” terang Amir Hasan, nelayan lainnya.
Menurut Amir, pemandangan pilu kini menjadi hal biasa: ikan-ikan kecil mati membusuk di pinggir danau, sementara yang tersisa bersembunyi di ceruk-ceruk air.
“Paling banyak kita temukan itu ikan gabus, mereka cuma bisa berdiam diri di kubangan, Dan ikan sapu-sapu yang sudah mati ” imbuhnya.
Duka para nelayan adalah cermin dari krisis ekologis yang menggerogoti Danau Limboto selama bertahun-tahun. Musim kemarau ekstrem memang menjadi pemantik, namun akar masalahnya terletak pada pendangkalan kronis akibat sedimentasi parah.
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah hulu membawa jutaan ton lumpur setiap tahunnya. Kedalaman danau yang dulunya mencapai puluhan meter, kini tergerus parah hingga tersisa 1–2 meter saja di banyak titik. Kondisi ini diperparah oleh pesatnya pertumbuhan eceng gondok yang mempercepat penguapan, serta desakan alih fungsi lahan danau menjadi pemukiman dan perkebunan. Tanpa penanganan terpadu yang radikal, danau ini berada di ambang kerapuhan permanen.
Di tengah krisis hidup para nelayan dan sekaratnya ekosistem, ada panggung lain yang tercipta. Hamparan tanah retak berkilo-kilometer yang disiram cahaya keemasan saat matahari terbenam (sunset) justru menarik perhatian warga sekitar.
Setiap sore, tak sedikit pemuda-mudi datang mendekat, berswafoto di atas permukaan danau yang mengering. Pemandangan estetik yang fotogenik bagi sebagian orang, namun menyimpan keharuan mendalam bagi mereka yang menggantungkan hidup dari airnya. Danau Limboto kini tak sekadar mengering; ia sedang berbisik meminta pertolongan.
Penulis: Burhan Bakari













Leave a Reply