Saat Bahasa Asing Menjadi Kunci Pelayanan WNA di Kantor Imigrasi

Tak hanya mengurus paspor dan visa, pelayanan WNA di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo juga menghadapi tantangan komunikasi lintas bahasa. Jumat, (25/9). Foto: Dok istimewa.
Tak hanya mengurus paspor dan visa, pelayanan WNA di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo juga menghadapi tantangan komunikasi lintas bahasa.

Bagi banyak orang, Kantor Imigrasi mungkin hanya identik dengan paspor, visa, dan berbagai dokumen keimigrasian. Namun, bagi petugas yang berada di balik meja pelayanan, ada tantangan lain yang tidak selalu terlihat: bagaimana menyampaikan informasi kepada orang yang tidak berbicara dalam bahasa yang sama.

Situasi tersebut menjadi semakin kompleks ketika pemohon merupakan Warga Negara Asing (WNA) dengan latar belakang bahasa dan budaya yang berbeda. Bahasa Inggris yang selama ini kerap menjadi jembatan komunikasi internasional pun tidak selalu menjadi solusi. Di sinilah kemampuan berbahasa asing memiliki peran penting.

Pelayanan kepada WNA bukan hanya persoalan memastikan dokumen lengkap atau prosedur administrasi berjalan sesuai ketentuan. Lebih dari itu, ada proses komunikasi yang menentukan apakah informasi yang disampaikan petugas benar-benar dipahami oleh pemohon.

Ketika Bahasa Inggris Tak Lagi Cukup

Bahasa Inggris memang menjadi salah satu bahasa yang umum digunakan dalam komunikasi lintas negara. Namun, praktik pelayanan WNA di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo, khususnya pada bidang Intaltuskim, menunjukkan bahwa tidak semua WNA mampu berkomunikasi menggunakan bahasa tersebut.

Ada WNA yang kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas. Ada pula yang lebih nyaman menggunakan bahasa negara asalnya. Kondisi seperti ini membuat petugas front desk harus mampu beradaptasi. Bahasa Mandarin, Jepang, Jerman, hingga Prancis menjadi beberapa bahasa yang mulai dipelajari untuk mendukung kebutuhan komunikasi di lapangan.

Bagi petugas pelayanan, mempelajari bahasa asing bukan perkara sederhana. Mereka tidak cukup hanya menghafalkan kosakata, tetapi juga perlu memahami cara pengucapan, susunan kalimat, serta konteks penggunaan bahasa. Tujuannya sederhana: informasi yang disampaikan dapat dipahami dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Silvia Septiviyani Kobi, salah satu petugas front desk, menceritakan pengalamannya ketika menghadapi WNA yang tidak menggunakan bahasa Inggris.

Baca Juga:  Sejarah Benteng Otanaha di Gorontalo

“Saya sebagai petugas front desk mendapati kasus di mana WNA tidak berbahasa Inggris sama sekali. Contohnya WNA dari Prancis karena bahasa Inggrisnya lebih kental ke bahasa Prancis,” ujar Silvia.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya terdorong untuk mempelajari lebih banyak bahasa asing.

“Saya lebih mempelajari bahasa-bahasa asing, terutama bahasa Inggris, China, Prancis, dan Jerman. Tetapi dalam mempelajari bahasanya sendiri terbilang masih minim,” tambahnya.

Pengakuan tersebut memperlihatkan satu hal penting: kebutuhan bahasa dalam pelayanan publik dapat muncul secara tidak terduga. Bahasa yang hari ini dianggap sebagai keterampilan tambahan, dalam situasi tertentu bisa menjadi kebutuhan utama.

Bahasa menjadi jembatan penting dalam pelayanan WNA. Di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo, petugas dituntut mampu beradaptasi dengan beragam bahasa, mulai dari Inggris, Prancis, China hingga Jerman.
Bahasa menjadi jembatan penting dalam pelayanan WNA. Di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo, petugas dituntut mampu beradaptasi dengan beragam bahasa, mulai dari Inggris, Prancis, China hingga Jerman.

Tak Harus Sempurna, yang Penting Saling Memahami

Menggunakan bahasa asing tentu memiliki tantangan tersendiri. Kesalahan tata bahasa (grammaire), konjugasi (conjugaison), pengucapan, maupun pemilihan kata sangat mungkin terjadi. Namun, komunikasi pada dasarnya tidak selalu menuntut kesempurnaan.

Dalam interaksi antara petugas dan WNA, yang paling penting adalah adanya usaha untuk memahami dan dipahami. Petugas berusaha menangkap maksud pemohon, sementara WNA juga berusaha menyampaikan kebutuhannya dengan kemampuan bahasa yang mereka miliki.

Pada titik inilah bahasa tidak lagi sekadar persoalan benar atau salah secara gramatikal. Bahasa menjadi sarana untuk menemukan titik temu.

Kemampuan tersebut juga membutuhkan keberanian untuk mencoba. Seorang petugas mungkin belum mampu berbicara dalam bahasa asing secara lancar, tetapi penguasaan kosakata dan kalimat dasar sudah dapat menjadi langkah awal untuk membuka komunikasi.

Dalam pelayanan publik, satu kalimat sederhana yang disampaikan dengan tepat terkadang lebih membantu daripada penggunaan teknologi penerjemahan tanpa memahami konteks pembicaraan.

Baca Juga:  Melihat Malam Qunut, Tradisi Turun-Temurun Masyarakat Gorontalo

Dari Mahasiswa Magang, Bahasa Prancis Masuk ke Meja Pelayanan

Tantangan tersebut kemudian membuka ruang bagi mahasiswa yang memiliki latar belakang bahasa untuk turut memberikan kontribusi. Mahasiswa Sastra yang menjalani kegiatan magang di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo berkesempatan berbagi pengetahuan bahasa Prancis kepada petugas pelayanan WNA.

Pembelajaran dilakukan secara dasar, mulai dari pengucapan huruf dalam bahasa Prancis, pengenalan kata benda, kata kerja, kata sifat, tata bahasa, hingga penyusunan kalimat sederhana.

Materi tersebut bukan ditujukan untuk menjadikan petugas sebagai penutur bahasa Prancis dalam waktu singkat. Tujuannya lebih praktis: memberikan bekal dasar agar petugas memiliki alternatif komunikasi ketika berhadapan dengan WNA yang menggunakan bahasa Prancis.

Bagi Silvia, pembelajaran tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan sekadar menggunakan aplikasi penerjemah.

“Kalau untuk belajar bahasa Prancis secara basic dengan cara membuat kalimat sendiri itu sudah cukup membantu. Dengan adanya Rayan kemarin, kita belajar bagaimana tahap pembuatan kalimat, benda-benda maskulin maupun feminin, bentuk kalimat bahasa lampau, dan itu sudah cukup membantu,” kata Silvia.

Menurutnya, pemahaman bahasa secara langsung memiliki manfaat yang tidak sepenuhnya dapat diperoleh melalui Google Translate.

“Penggunaan Google Translate tidak sama seperti mempelajari bahasanya sendiri,” sambungnya.

Google Translate Membantu, tetapi Bahasa Tetap Memiliki Konteks

Teknologi penerjemahan memang memberikan kemudahan. Dalam kondisi tertentu, aplikasi penerjemah dapat menjadi alat bantu ketika petugas dan WNA mengalami hambatan komunikasi. Namun, bahasa tidak hanya terdiri atas kata-kata yang diterjemahkan satu per satu.

Ada konteks, budaya, struktur kalimat, pilihan kata, intonasi, hingga situasi yang turut menentukan makna sebuah pesan. Karena itu, kemampuan memahami dasar suatu bahasa tetap memiliki nilai penting dalam pelayanan yang melibatkan komunikasi langsung.

Baca Juga:  Jejak Belanda di Negeri Batudaa, Potret Sejarah Gorontalo

Penguasaan bahasa asing juga dapat membantu petugas membangun rasa percaya diri ketika berinteraksi dengan WNA. Sapaan sederhana menggunakan bahasa yang dipahami pemohon dapat menjadi pembuka komunikasi yang lebih nyaman. Dari sini terlihat bahwa kemampuan bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi bagian dari pendekatan pelayanan.

Bahasa sebagai Jembatan Pelayanan Lintas Budaya

Pengalaman di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Gorontalo menunjukkan bahwa pelayanan WNA membutuhkan kemampuan adaptasi yang terus berkembang. Petugas tidak hanya berhadapan dengan dokumen dan prosedur, tetapi juga dengan manusia yang memiliki bahasa, kebiasaan, dan latar budaya berbeda.

Karena itu, kemampuan berbahasa asing dapat menjadi salah satu keterampilan pendukung yang membantu memperluas ruang komunikasi dalam pelayanan. Kontribusi mahasiswa dalam mengenalkan bahasa Prancis dasar kepada petugas menjadi salah satu contoh kecil bagaimana lingkungan akademik dapat berinteraksi dengan kebutuhan pelayanan publik.

Bahasa pada akhirnya memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar alat berbicara. Bahasa dapat menjadi tools untuk menyampaikan informasi, membangun pemahaman, dan mendekatkan dua orang yang berasal dari latar budaya berbeda.

Bagi pelayanan WNA, kemampuan tersebut menjadi semakin relevan. Sebab, ketika bahasa yang berbeda bertemu di satu meja pelayanan, yang dibutuhkan bukan hanya penerjemahan kata, tetapi juga kemauan untuk memahami.

Di situlah bahasa asing menemukan fungsi terpentingnya: menjadi jembatan antara pelayanan publik dan masyarakat global.

Penulis: Rayan Pakaya, Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya.

Pratnyawati Nuridi Suwarso: Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya.

Editor: Burhan Bakari


**Cek berita dan artikel terbaru di Banthayo.id. Klik : Ikuti WhatsApp Channel